PENGORGANISASIAN MAJELIS TAKLIM
A. Pengertian Pengorganisasian Majelis Taklim
Pengorganisasian adalah seluruh proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tnggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakan sebagai suatu kasatuan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
Pengorganisasian atau al- thanzhim dalam pandangan islam bukan semata-mata merupakan wadah,
Rabu, 07 April 2010
Senin, 29 Maret 2010
HIKMAH

Adakah istri yang tidak cerewet?*
Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun sama. Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang
Zakat vs Infak vs Sedekah
Bagi para penyuluh agama Islam, mengenalkan masyarakat akan pentingnya ber infak, zakat ataupun bersedekah merupakan suatu hal yang bisa dikatakan kegiatan penyuluhan bersifat wajib, dikarenakan kegiatan semacam ini dipandang Allah sebagai perbuatan yang mulia, lebih-lebih pengenalan tentang pengoptimalan zakat.
FASE-FASE PENDIDIKAN ANAK

(Menuntun Buah Hati Menuju Surga)*
Fase-fase dalam pendidikan anak sebelum mencapai balig dapat dibagi ke dalam beberapa tingkatan sebagai berikut.
Pertama, pada masa bayi. Masa ini berlangsung ketika anak masih dalam keadaan menyusu sampai dia berusia dua tahun.
Kedua, pada awal masa kanak-kanak (sebelum masa mumayiz). Masa ini berlangsung ketika dia berusia dua tahun sampai akhir usia enam tahun.
Rabu, 20 Januari 2010
KEDUDUKAN ANAK DALAM AL QUR’AN*
Al Qur’an telah mengabarkan bahwa dalam diri anak terdapat sisi-sisi yang menguntungkan, namun dalam waktu yang bersamaan terdapat pula sisi-sisi yang membahayakan. Dengan indahnya Al Qur’an melukiskan bahwa disatu sisi anak adalah sebagai ”qurrota a’yun” dan ”zinatul hayatid dunya”, namun di sisi lain Allah SWT mengingatkan bahwa anak adalah ”fitnah” dan ”musuh”.
1. Anak sebagai “qurrota a’yun”
Anak sebagai qurrota a’yun tergambar dalam firman Allah SWT QS. Al Furqon:74
1. Anak sebagai “qurrota a’yun”
Anak sebagai qurrota a’yun tergambar dalam firman Allah SWT QS. Al Furqon:74
Selasa, 22 Desember 2009
Empat belas perkara sunat dilakukan pada hari Asyura (10 Muharram)
Empat belas perkara sunat dilakukan pada hari Asyura (10 Muharram):
1. Melapangkan masa/belanja anak isteri. Fadilatnya - Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun ini.
2. Memuliakan fakir miskin. Fadilatnya - Allah akan melapangkannya dalam kubur nanti.
3. Menahan marah. Fadilatnya - Di akhirat nanti Allah akan memasukkannya ke dalam golongan yang redha.
4. Menunjukkan orang sesat. Fadilatnya - Allah akan memenuhkan cahaya iman dalam hatinya.
5. Menyapu/mengusap kepala anak yatim. Fadilatnya - Allah akan mengurniakan sepohon pokok di syurga bagi tiap-tiap rambut yang disapunya.
6. Bersedekah. Fadilatnya - Allah akan menjauhkannya daripada neraka sekadar jauh seekor gagak terbang tak berhenti-henti dari kecil sehingga ia mati. Diberi pahala seperti bersedekah kepada semua fakir miskin di dunia ini.
7. Memelihara kehormatan diri. Fadilatnya - Allah akan mengurniakan hidupnya sentiasa diterangi cahaya keimanan.
8. Mandi Sunat. Fadilatnya - Tidak sakit (sakit berat) pada tahun itu. Lafaz niat: "Sahaja aku mandi sunat hari Asyura kerana Allah Taala."
9. Bercelak. Fadilatnya - Tidak akan sakit mata pada tahun itu.
10. Membaca Qulhuwallah hingga akhir 1,000X. Fadilatnya - Allah akan memandanginya dengan pandangan rahmah di akhirat nanti.
11. Sembahyang sunat empat rakaat. Fadilatnya - Allah akan mengampunkan dosanya walau telah berlarutan selama 50 tahun melakukannya. Lafaz niat: "Sahaja aku sembahyang sunat hari Asyura empat rakaat kerana Allah Taala." Pada rakaat pertama dan kedua selepas Fatihah dibaca Qulhuwallah 11X.
12. Membaca "has biallahhu wa nik mal wa keel, nikmal maula wa nikmannaseer". Fadilatnya - Tidak mati pada tahun ini.
13. Menjamu orang berbuka puasa. Fadhilat - Diberi pahala seperti memberi sekalian orang Islam berbuka puasa.
14. Puasa. Niat - "Sahaja aku berpuasa esok hari sunat hari Asyura kerana Allah Taala." Fadilat - Diberi pahala seribu kali Haji, seribu kali umrah dan seribu kali syahid dan diharamkannya daripada neraka.
1. Melapangkan masa/belanja anak isteri. Fadilatnya - Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun ini.
2. Memuliakan fakir miskin. Fadilatnya - Allah akan melapangkannya dalam kubur nanti.
3. Menahan marah. Fadilatnya - Di akhirat nanti Allah akan memasukkannya ke dalam golongan yang redha.
4. Menunjukkan orang sesat. Fadilatnya - Allah akan memenuhkan cahaya iman dalam hatinya.
5. Menyapu/mengusap kepala anak yatim. Fadilatnya - Allah akan mengurniakan sepohon pokok di syurga bagi tiap-tiap rambut yang disapunya.
6. Bersedekah. Fadilatnya - Allah akan menjauhkannya daripada neraka sekadar jauh seekor gagak terbang tak berhenti-henti dari kecil sehingga ia mati. Diberi pahala seperti bersedekah kepada semua fakir miskin di dunia ini.
7. Memelihara kehormatan diri. Fadilatnya - Allah akan mengurniakan hidupnya sentiasa diterangi cahaya keimanan.
8. Mandi Sunat. Fadilatnya - Tidak sakit (sakit berat) pada tahun itu. Lafaz niat: "Sahaja aku mandi sunat hari Asyura kerana Allah Taala."
9. Bercelak. Fadilatnya - Tidak akan sakit mata pada tahun itu.
10. Membaca Qulhuwallah hingga akhir 1,000X. Fadilatnya - Allah akan memandanginya dengan pandangan rahmah di akhirat nanti.
11. Sembahyang sunat empat rakaat. Fadilatnya - Allah akan mengampunkan dosanya walau telah berlarutan selama 50 tahun melakukannya. Lafaz niat: "Sahaja aku sembahyang sunat hari Asyura empat rakaat kerana Allah Taala." Pada rakaat pertama dan kedua selepas Fatihah dibaca Qulhuwallah 11X.
12. Membaca "has biallahhu wa nik mal wa keel, nikmal maula wa nikmannaseer". Fadilatnya - Tidak mati pada tahun ini.
13. Menjamu orang berbuka puasa. Fadhilat - Diberi pahala seperti memberi sekalian orang Islam berbuka puasa.
14. Puasa. Niat - "Sahaja aku berpuasa esok hari sunat hari Asyura kerana Allah Taala." Fadilat - Diberi pahala seribu kali Haji, seribu kali umrah dan seribu kali syahid dan diharamkannya daripada neraka.
Penyerahan Bantuan Dana Operasional
Alhamdulillah, penyerahan dana bantuan dari Pemeritah Kota Yogyakarta tahun 2009 untuk 19 masjid dan 21 mushalla kecamatan Danurejan Yogyakarta sudah selesai. masing-masing mendapatkan bantuan operasional masjid Rp. 1.000.000 dan Mushalla Rp. 700.000. semoga bermanfaat dan bisa menggunakan dana sebaik-baiknya.
KUA DANUREJAN
Letaknya di kompleks masjid lempuyangan. tepatnya di kelurahan Bausasran kecamatan Danurejan kota Yogyakarta.
kepala KUA :
Drs. Suparman
Penghulu :
Setyo Purwadi, S.Ag.
Staff :
HM Edi Fauzan, SH
Yuni Ludianingsih
Pengawas :
M Zahari Ismail, S.Pd.I
Penyuluh :
Sriyati, BA
Samsul Ma’arif, S.Th.I
P3N :
Wahzani (Kel. Bausasran)
Rukiman (Kel. Tegal Panggung)
Romi (Kel. Suryatmajan)
BP4 :
Mardiyati, Syamsuri, Rosyidin, Hibatullah, Asfiyati, Sismadi, Marjono,
Febri, ...
kepala KUA :
Drs. Suparman
Penghulu :
Setyo Purwadi, S.Ag.
Staff :
HM Edi Fauzan, SH
Yuni Ludianingsih
Pengawas :
M Zahari Ismail, S.Pd.I
Penyuluh :
Sriyati, BA
Samsul Ma’arif, S.Th.I
P3N :
Wahzani (Kel. Bausasran)
Rukiman (Kel. Tegal Panggung)
Romi (Kel. Suryatmajan)
BP4 :
Mardiyati, Syamsuri, Rosyidin, Hibatullah, Asfiyati, Sismadi, Marjono,
Febri, ...
ARTIKEL PENYULUH
October 8th, 2009 | sams_8380
Hakikat Fitrah Manusia
Tanpa terasa, 18 hari sudah Ramadan berlalu. Bulan tempat menempa diri, menguji kesungguhan untuk menggapai surga dengan segala kemudahan dan keistimewaan di dalamnya. Mudah karena sepanjang Ramadan, pintu-pintu surga dan rahmat dibuka oleh Allah seluas-luasnya, sehingga terasa ringan badan dan jiwa menjalankan segala macam ibadah. Istimewa karena begitu besar perhatian Allah terhadap segala amalan hambanya di bulan tersebut; amalan yang sunah diberikan pahala seperti amalan wajib, dan amalan yang wajib dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Pintu-pintu ampunan dibuka sedangkan pintu-pintu neraka ditutup, bahkan setan pun dibelenggu untuk mengurangi potensinya menyesatkan manusia.
Pada bulan Syawal ini manusia telah kembali berada pada fitrahnya, asal kejadiannya yang masih suci dan murni. Bulan fitrah yang selalu di awali dengan perayaan Idul Fitri setelah menjalankan ritual puasa dan amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah selama Ramadan,
Sayyid Qutb membagi fitrah kepada dua macam: Pertama, fitrah manusia, yaitu bahwa potensi dasar yang ada pada manusia adalah untuk menuhankan Allah dan selalu condong kepada kebenaran. Kedua, fitrah agama, yaitu wahyu Allah yang disampaikan lewat para rasulnya untuk menguatkan dan menjaga fitrah manusia itu. Kedua macam fitrah ini adalah diciptakan dan bersumber dari Allah SWT. Oleh karenanya, antara fitrah manusia dan fitrah agama tidaklah akan pernah terjadi pertentangan karena keduanya mengarah kepada tujuan yang satu, kebenaran dan kesucian jiwa yang menjadikan manusia kembali dan dekat kepada sang penciptanya, Allah SWT.
Allah SWT berfirman :
“(dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-A’raf : 19)
Perhatikan dialog Allah SWT dan Adam AS pada ayat tersebut. Allah SWT berbicara kepada Adam dengan menggunakan perkataan “pohon ini” yang mengisyaratkan kepada kedekatan jarak antara Adam dan Rabbnya. Itulah nuansa kedekatan yang dihadirkan ketika Adam dan Hawa patuh kepada ketetapan Tuhan, ketika Adam dan Hawa masih dalam fitrah asal kejadiannya.
Namun perhatikan bagaimana Allah menegur Adam AS dan Hawa ketika keduanya terlanjur terbujuk rayuan setan untuk menjamah pohon larangan : “Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al-A’raf : 22)
Ya, ketika Adam memilih menyalahi fitrah, tidak patuh (maksiat) terhadap perintah Allah, terciptalah jarak yang menyebabkan Adam jauh dari Rabbnnya sehingga Allah memilih kata “pohon itu” pada dialog ayat tersebut.
Inilah hakikat fitrah manusia. Apabila mereka taat dan patuh pada perintah Allah, mereka akan selalu dekat dengan-Nya. Apabila ia dekat dengan Tuhannya, ia akan selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat. Ia akan merasa bahwa setiap perilakunya, gerak geriknya berada dalam pengawasan Allah. Seumpama seorang bintang film yang sedang berada di depan kamera, segala gaya dan mimiknya akan direkam dan hasilnya akan dipertontonkan nanti. Oleh karenanya si bintang film akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan perannya, berakting dengan penuh penghayatan dan berupaya untuk tidak menyalahi skenario yang telah digariskan.
Jika fitrah manusia telah kembali dan terjaga, timbullah sifat Ihsan dalam dirinya; serasa ia berada dalam perhatian Allah, sehingga menjadikannya tertib dan berhati-hati dalam setiap sikap dan perbuatan. Karena ia sadar bahwa setiap perilakunya sedang direkam dan bakal dipertontonkan di Mahkamah Mahsyar nanti. Inilah kesan dekatnya hamba kepada Tuhannya ketika telah kembali kepada fitrahnya setelah menjalani penempaan selama Ramadan.
Karena itulah, ketika Allah menjelaskan tentang perintah, hakikat, tujuan dan syariat-syariat yang berkaitan dengan puasa Ramadan, di tengah ayat-ayat tersebut Allah menjelaskan betapa dekatnya Dia dengan hamba-hambaNya :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186).
Inilah hakikat dan tujuan puasa Ramadan yang telah kita lalui kemarin. Ramadan mengajak manusia untuk kembali kepada fitrah asal kejadian mereka, yaitu dekat dengan Allah SWT. Dengan suasana kedekatan ini, manusia selalu akan merasa sadar akan keberadaan Rabbnya. Dan ini pula yang dimaksudkan juga dengan taqwa yang menjadi tujuan inti ibadah puasa. Sebuah kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perilaku dan gerak geriknya karena tempaan Ramadan telah membangkitkan kembali hakikat fitrahnya, yaitu bahwa ia dekat dengan Rabbnya
Maka pada bulan Syawal ini di mana puasa Ramadan baru saja beberapa hari berlalu, renungkanlah di mana posisi kita telah berada saat ini? Apakah kita sudah semakin dekat kepada Allah, ataukah keadaan kita tidak jauh berbeda ketika sebelum memasuki madrasah puasa Ramadan? Adakah kesan Ramadan dan segala ritual ibadah yang telah kita lakukan dalam Ramadan masih membekas dalam diri pada bulan Syawal ini ataukah nuansa Ramadan malah telah berbalik seratus delapan puluh derajat? Adakah Ramadan tetap membekasi kita di bulan syawal ini, bulan “idul fitri”, ketika kita kembali kepada fitrah, untuk kemudian senantiasa berbuat dan bersikap penuh kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita karena jarak kita telah kembali begitu dekat dengan-Nya ataukah sebaliknya kita kembali kepada rutinitas kehidupan yang semakin menjauhkan kita dari-Nya?
Seandainya kita merasa termasuk kelompok yang pertama, maka kita adalah orang yang sebenar-benarnya telah “aidin wal faizin” pada bulan syawal ini, yaitu golongan yang telah kembali kepada Allah, kembali kepada fitrah kesucian, berada dekat kepada Rabbnya. Dan kita lah orang yang sebenar-benarnya telah mencapai kemenangan di dunia dan akhirat. Wallahu A’lam.
Hakikat Fitrah Manusia
Tanpa terasa, 18 hari sudah Ramadan berlalu. Bulan tempat menempa diri, menguji kesungguhan untuk menggapai surga dengan segala kemudahan dan keistimewaan di dalamnya. Mudah karena sepanjang Ramadan, pintu-pintu surga dan rahmat dibuka oleh Allah seluas-luasnya, sehingga terasa ringan badan dan jiwa menjalankan segala macam ibadah. Istimewa karena begitu besar perhatian Allah terhadap segala amalan hambanya di bulan tersebut; amalan yang sunah diberikan pahala seperti amalan wajib, dan amalan yang wajib dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Pintu-pintu ampunan dibuka sedangkan pintu-pintu neraka ditutup, bahkan setan pun dibelenggu untuk mengurangi potensinya menyesatkan manusia.
Pada bulan Syawal ini manusia telah kembali berada pada fitrahnya, asal kejadiannya yang masih suci dan murni. Bulan fitrah yang selalu di awali dengan perayaan Idul Fitri setelah menjalankan ritual puasa dan amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah selama Ramadan,
Sayyid Qutb membagi fitrah kepada dua macam: Pertama, fitrah manusia, yaitu bahwa potensi dasar yang ada pada manusia adalah untuk menuhankan Allah dan selalu condong kepada kebenaran. Kedua, fitrah agama, yaitu wahyu Allah yang disampaikan lewat para rasulnya untuk menguatkan dan menjaga fitrah manusia itu. Kedua macam fitrah ini adalah diciptakan dan bersumber dari Allah SWT. Oleh karenanya, antara fitrah manusia dan fitrah agama tidaklah akan pernah terjadi pertentangan karena keduanya mengarah kepada tujuan yang satu, kebenaran dan kesucian jiwa yang menjadikan manusia kembali dan dekat kepada sang penciptanya, Allah SWT.
Allah SWT berfirman :
“(dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-A’raf : 19)
Perhatikan dialog Allah SWT dan Adam AS pada ayat tersebut. Allah SWT berbicara kepada Adam dengan menggunakan perkataan “pohon ini” yang mengisyaratkan kepada kedekatan jarak antara Adam dan Rabbnya. Itulah nuansa kedekatan yang dihadirkan ketika Adam dan Hawa patuh kepada ketetapan Tuhan, ketika Adam dan Hawa masih dalam fitrah asal kejadiannya.
Namun perhatikan bagaimana Allah menegur Adam AS dan Hawa ketika keduanya terlanjur terbujuk rayuan setan untuk menjamah pohon larangan : “Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al-A’raf : 22)
Ya, ketika Adam memilih menyalahi fitrah, tidak patuh (maksiat) terhadap perintah Allah, terciptalah jarak yang menyebabkan Adam jauh dari Rabbnnya sehingga Allah memilih kata “pohon itu” pada dialog ayat tersebut.
Inilah hakikat fitrah manusia. Apabila mereka taat dan patuh pada perintah Allah, mereka akan selalu dekat dengan-Nya. Apabila ia dekat dengan Tuhannya, ia akan selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat. Ia akan merasa bahwa setiap perilakunya, gerak geriknya berada dalam pengawasan Allah. Seumpama seorang bintang film yang sedang berada di depan kamera, segala gaya dan mimiknya akan direkam dan hasilnya akan dipertontonkan nanti. Oleh karenanya si bintang film akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan perannya, berakting dengan penuh penghayatan dan berupaya untuk tidak menyalahi skenario yang telah digariskan.
Jika fitrah manusia telah kembali dan terjaga, timbullah sifat Ihsan dalam dirinya; serasa ia berada dalam perhatian Allah, sehingga menjadikannya tertib dan berhati-hati dalam setiap sikap dan perbuatan. Karena ia sadar bahwa setiap perilakunya sedang direkam dan bakal dipertontonkan di Mahkamah Mahsyar nanti. Inilah kesan dekatnya hamba kepada Tuhannya ketika telah kembali kepada fitrahnya setelah menjalani penempaan selama Ramadan.
Karena itulah, ketika Allah menjelaskan tentang perintah, hakikat, tujuan dan syariat-syariat yang berkaitan dengan puasa Ramadan, di tengah ayat-ayat tersebut Allah menjelaskan betapa dekatnya Dia dengan hamba-hambaNya :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186).
Inilah hakikat dan tujuan puasa Ramadan yang telah kita lalui kemarin. Ramadan mengajak manusia untuk kembali kepada fitrah asal kejadian mereka, yaitu dekat dengan Allah SWT. Dengan suasana kedekatan ini, manusia selalu akan merasa sadar akan keberadaan Rabbnya. Dan ini pula yang dimaksudkan juga dengan taqwa yang menjadi tujuan inti ibadah puasa. Sebuah kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perilaku dan gerak geriknya karena tempaan Ramadan telah membangkitkan kembali hakikat fitrahnya, yaitu bahwa ia dekat dengan Rabbnya
Maka pada bulan Syawal ini di mana puasa Ramadan baru saja beberapa hari berlalu, renungkanlah di mana posisi kita telah berada saat ini? Apakah kita sudah semakin dekat kepada Allah, ataukah keadaan kita tidak jauh berbeda ketika sebelum memasuki madrasah puasa Ramadan? Adakah kesan Ramadan dan segala ritual ibadah yang telah kita lakukan dalam Ramadan masih membekas dalam diri pada bulan Syawal ini ataukah nuansa Ramadan malah telah berbalik seratus delapan puluh derajat? Adakah Ramadan tetap membekasi kita di bulan syawal ini, bulan “idul fitri”, ketika kita kembali kepada fitrah, untuk kemudian senantiasa berbuat dan bersikap penuh kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita karena jarak kita telah kembali begitu dekat dengan-Nya ataukah sebaliknya kita kembali kepada rutinitas kehidupan yang semakin menjauhkan kita dari-Nya?
Seandainya kita merasa termasuk kelompok yang pertama, maka kita adalah orang yang sebenar-benarnya telah “aidin wal faizin” pada bulan syawal ini, yaitu golongan yang telah kembali kepada Allah, kembali kepada fitrah kesucian, berada dekat kepada Rabbnya. Dan kita lah orang yang sebenar-benarnya telah mencapai kemenangan di dunia dan akhirat. Wallahu A’lam.
WARTA PENYULUH DANUREJAN
SONGSONG RAMADHAN 1430 H
October 8th, 2009 | sams_8380
Warta Danurejan
Penyuluh agama fungsional kecamatan Danurejan bekerjasama dengan KUA Danurejan mengadakan kajian songsong Ramadhan 1430H, sebagai peserta adalah 2 Penyuluh Fungsional, 18 Penyuluh Agama Honorer, 11 Lembaga Dakwah dan 20 Takmir Masjid Se Danurejan dan peserta KKN UIN yang berada di Danurejan. Nara sumber adalah Kepala KUA Danurejan Bp. Drs. Suparman dan Sek Cam Danurejan Octo Noor Arafat dan sebagai moderator Samsul Ma’arif, S.Th.I (Penyuluh Agama Islam Kecamatan Danurejan).
Program peningkatan mutu kemasjidan dalam menangani umat (masjid sebagai lembaga pemberdayaan umat) dan kesadaran akan zakat menjadi topik yang menarik yang dilontarkan oleh Sekcam Danurejan. Bagaimana menjadi masjid yang paripurna, tentu saja pendukung semua itu adalah pendataan jamaah. Dari pendataan itu, bisa terlihat permasalahan apa yang dihadapi dari masing-masing maasjid. Sedangkan Kepala KUA Kecamatan Danurejan, Drs. Suparman beliau memberikan motivasi untuk bersama-sama membimbing umat untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang totalitas. Beliau juga memberikan informasi bahwa salah satu masjid di wilayah Danurejan, yaitu Masjid Al Jihad Kelurahan Suryatmajan, menjadi tempat safari tarawih ramadhan 1430 H untuk pejabat pemkot Yogyakarta.
October 8th, 2009 | sams_8380
Warta Danurejan
Penyuluh agama fungsional kecamatan Danurejan bekerjasama dengan KUA Danurejan mengadakan kajian songsong Ramadhan 1430H, sebagai peserta adalah 2 Penyuluh Fungsional, 18 Penyuluh Agama Honorer, 11 Lembaga Dakwah dan 20 Takmir Masjid Se Danurejan dan peserta KKN UIN yang berada di Danurejan. Nara sumber adalah Kepala KUA Danurejan Bp. Drs. Suparman dan Sek Cam Danurejan Octo Noor Arafat dan sebagai moderator Samsul Ma’arif, S.Th.I (Penyuluh Agama Islam Kecamatan Danurejan).
Program peningkatan mutu kemasjidan dalam menangani umat (masjid sebagai lembaga pemberdayaan umat) dan kesadaran akan zakat menjadi topik yang menarik yang dilontarkan oleh Sekcam Danurejan. Bagaimana menjadi masjid yang paripurna, tentu saja pendukung semua itu adalah pendataan jamaah. Dari pendataan itu, bisa terlihat permasalahan apa yang dihadapi dari masing-masing maasjid. Sedangkan Kepala KUA Kecamatan Danurejan, Drs. Suparman beliau memberikan motivasi untuk bersama-sama membimbing umat untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang totalitas. Beliau juga memberikan informasi bahwa salah satu masjid di wilayah Danurejan, yaitu Masjid Al Jihad Kelurahan Suryatmajan, menjadi tempat safari tarawih ramadhan 1430 H untuk pejabat pemkot Yogyakarta.
PUASA SUNAH SENIN KAMIS
Rasionalisme Puasa Senin Kamis
Dyna Rochmyaningsih
(Penulis sains independen)
Selama ribuan tahun, puasa adalah suatu bentuk ibadah yang lazim dilakukan oleh manusia. Kita bisa melihat catatan sejarah yang merekam praktik puasa sebagai ritual yang dipercaya, bisa memberi kesehatan bahkan keabadian. Orang Mesir Kuno percaya bahwa kelebihan makan bisa mendatangkan penyakit sehingga perlu dilakukan pengurangan asupan makanan ke dalam tubuh, yaitu dengan praktik puasa. Selain itu, Phytagoras, seorang filsuf Yunani Kuno, percaya bahwa berpuasa bisa memurnikan pikiran manusia karena puasa bisa menghilangkan racun dari tubuh. Belum lagi, kepercayaan orang-orang Inca di Peru dan suku-suku asli Amerika lainnya yang melakukan puasa sebagai bentuk penebusan dosa.
Pada kehidupan modern, puasa sebagai bentuk ibadah dapat ditemukan pada empat agama besar dunia, yaitu Islam, Kristen, Yahudi, dan Buddha.
Setiap agama memiliki bentuk puasa yang khas, baik dalam metode maupun hari pelaksanaannya. Sebagai contoh, saat ini sekitar lebih dari satu miliar Muslim melakukan puasa Ramadhan setiap tahun, begitu juga dengan jutaan orang Yahudi yang berpuasa di hari Yom Kippur. Belum lagi puluhan jutaan orang Hindhu yang berpuasa di hari Ekadashi. Dari berbagai bentuk puasa ini, dalam pandangan saya, puasa Senin Kamis yang disunahkan oleh Rasulullah SAW merupakan bentuk puasa yang paling baik untuk gaya hidup sehat seorang Muslim. Berikut akan saya jelaskan mengapa demikian.
Secara umum, puasa Senin Kamis adalah keadaan di mana tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman, dari waktu fajar sampai waktu terbenamnya matahari. Hal ini berarti tidak ada asupan senyawa glukosa dalam tubuh kita selama berpuasa. Sebagai bahan bakar utama otak, absennya senyawa glukosa ini diduga menyebabkan berkurangnya daya atau kinerja otak dalam berpikir selama berpuasa. Benarkah demikian?
Dunia sains mengartikan akal budi sebagai kognisi yang meliputi berbagai proses mental untuk mendapatkan pengetahuan. Contohnya adalah berpikir, mengingat, memutuskan sesuatu, dan memecahkan masalah. Semua contoh itu adalah fungsi yang membentuk bahasa, imajinasi, persepsi, dan perencanaan (Wagner 2009). Fungsi-fungsi tersebut diproses dalam otak yang memiliki jutaan sel saraf. Nah, sel saraf inilah yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan proses mental.
Seperti sel-sel tubuh lainnya, sel saraf memerlukan energi yang cukup untuk bekerja dengan baik dan benar. Energi ini hanya datang dari glukosa. Oleh karena itu, untuk menjalankan fungsi mental, otak manusia memerlukan glukosa yang cukup. Dengan asumsi ini, puasa sebagai kondisi di mana makanan tidak masuk ke dalam tubuh dalam waktu tertentu, diduga dapat menurunkan kualitas proses mental yang ada di dalam otak.
Akan tetapi, fakta membuktikan bahwa kurangnya glukosa pada saat puasa tidak menghambat pemenuhan kebutuhan glukosa di dalam otak. Bagaimana pun juga, tubuh kita adalah sistem pengatur energi yang canggih. Tubuh selalu bisa menjaga keseimbangan (homeostatis). Jadi, ketika tubuh mendeteksi adanya kekurangan glukosa maka glukosa tambahan, akan dibentuk dari sumber lainnya yang ada di dalam tubuh, seperti glikogen dan protein. Pembentukan glukosa yang baru ini (glukoneogenesis) membuat ketersediaan glukosa di dalam otak menjadi seimbang (Rochmyaningsih 2009). Dengan cara seperti itulah, otak manusia dapat bekerja normal pada saat puasa harian, seperti puasa Senin-Kamis dan juga puasa Ramadhan.
Di Indonesia, kebanyakan Muslim menyalahkan puasa sebagai hal yang membuat mereka kurang berkonsentrasi saat bekerja. Padahal, sebenarnya yang mengganggu mereka adalah sensasi lapar. Sensasi ini memang dapat mengganggu konsentrasi karena di proses dalam otak juga. Akan tetapi, kita dapat mengabaikan sensasi ini jika kita benar-benar berkonsentrasi penuh pada pekerjaan kita. Faktanya, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa puasa harian menyebabkan berkurangnya kinerja otak dalam berpikir. Puasa Senin-Kamis aman untuk diamalkan. Tapi, apa yang menyebabkan puasa Senin-Kamis layak disebut gaya hidup yang sehat?
Dalam pandangan saya, apa yang menyebabkan puasa Senin-Kamis istimewa adalah waktu pelaksanaannya. Berbeda dengan puasa Ramadhan yang wajib ditunaikan selama satu bulan penuh oleh seorang Muslim, puasa Senin-Kamis merupakan puasa sunah yang dianjurkan untuk dilakukan setiap hari Senin dan hari Kamis. Perlu kita perhatikan bahwa terdapat selang dua hari dari Senin menuju Kamis, dan terdapat selang tiga hari dari Kamis menuju Senin. Bersama dengan puasa sunah Nabi Daud yang dilakukan berselang-seling satu hari, puasa Senin Kamis bisa diartikan sebagai bentuk puasa berselang-seling (alternate days fasting). Puasa berselang-seling merupakan salah satu bentuk pembatasan kalori (caloric restriction). Pembatasan kalori adalah usaha membatasi jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuh.
Seperti yang kita ketahui, dewasa ini makanan sampah (junkfood) berlimpah. Banyak sekali kita temukan orang yang jarang berpuasa dan mengonsumsi makanan secara berlebihan, entah itu sering mengonsumsi mi instan, makanan manis, makanan cepat saji (fast food), makanan berlemak, dan lain sebagainya. Fenomena ini merupakan hal yang buruk bagi kesehatan orang bersangkutan. Tingginya konsumsi makanan yang tidak sehat, bisa mengakibatkan tingginya aktivitas sistem tubuh. Kita membuat sistem tubuh kita lelah dengan makanan-makanan yang kita masukkan secara berlebihan. Tidaklah heran, jika pola makan yang tidak sehat ini bisa mengakibatkan penyakit, seperti obesitas dan juga diabetes (Halberg 2005). Perlu kita ketahui di sini bahwa diabetes adalah penyakit yang bisa mengundang penyakit lainnya, seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, dan juga karsinoma (Bartness et al 2002).
Nah, dengan puasa berselang-seling, sebagai bentuk pembatasan kalori, kita bisa mencegah penyakit-penyakit ini. Dengan asupan makanan yang berkurang, kita bisa membuat sistem pencernaan tubuh kita beristirahat, berhemat dalam menggunakan makanan yang masuk, dan mendapatkan fungsi metabolisme tubuh yang optimal (Haldberg et al 2005). Puasa berselang-seling juga dapat meningkatkan sensitivitas hormon insulin sehingga menguntungkan bagi pengaturan glukosa dalam tubuh (Anson 2003). Oleh karena itu, jelaslah bahwa puasa berselang-seling ini merupakan gaya hidup yang sehat di tengah budaya konsumerisme yang sudah menjamur di tengah umat Muslim.
Peran puasa Senin-Kamis sebagai gaya hidup yang sehat, menambah khazanah keselarasan rasionalisme dengan Islam. Tidak hanya mempunyai ayat-ayat Alquran yang mengandung banyak esensi ilmu pengetahuan, tetapi Islam juga mengajarkan Assunah yang selaras dengan perkembangan sains saat ini. Tidak hanya mengantarkan Anda untuk dekat pada-Nya, ibadah puasa Senin-Kamis yang kontinu juga menjaga Anda dengan gaya hidup yang sehat.
Dyna Rochmyaningsih
(Penulis sains independen)
Selama ribuan tahun, puasa adalah suatu bentuk ibadah yang lazim dilakukan oleh manusia. Kita bisa melihat catatan sejarah yang merekam praktik puasa sebagai ritual yang dipercaya, bisa memberi kesehatan bahkan keabadian. Orang Mesir Kuno percaya bahwa kelebihan makan bisa mendatangkan penyakit sehingga perlu dilakukan pengurangan asupan makanan ke dalam tubuh, yaitu dengan praktik puasa. Selain itu, Phytagoras, seorang filsuf Yunani Kuno, percaya bahwa berpuasa bisa memurnikan pikiran manusia karena puasa bisa menghilangkan racun dari tubuh. Belum lagi, kepercayaan orang-orang Inca di Peru dan suku-suku asli Amerika lainnya yang melakukan puasa sebagai bentuk penebusan dosa.
Pada kehidupan modern, puasa sebagai bentuk ibadah dapat ditemukan pada empat agama besar dunia, yaitu Islam, Kristen, Yahudi, dan Buddha.
Setiap agama memiliki bentuk puasa yang khas, baik dalam metode maupun hari pelaksanaannya. Sebagai contoh, saat ini sekitar lebih dari satu miliar Muslim melakukan puasa Ramadhan setiap tahun, begitu juga dengan jutaan orang Yahudi yang berpuasa di hari Yom Kippur. Belum lagi puluhan jutaan orang Hindhu yang berpuasa di hari Ekadashi. Dari berbagai bentuk puasa ini, dalam pandangan saya, puasa Senin Kamis yang disunahkan oleh Rasulullah SAW merupakan bentuk puasa yang paling baik untuk gaya hidup sehat seorang Muslim. Berikut akan saya jelaskan mengapa demikian.
Secara umum, puasa Senin Kamis adalah keadaan di mana tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman, dari waktu fajar sampai waktu terbenamnya matahari. Hal ini berarti tidak ada asupan senyawa glukosa dalam tubuh kita selama berpuasa. Sebagai bahan bakar utama otak, absennya senyawa glukosa ini diduga menyebabkan berkurangnya daya atau kinerja otak dalam berpikir selama berpuasa. Benarkah demikian?
Dunia sains mengartikan akal budi sebagai kognisi yang meliputi berbagai proses mental untuk mendapatkan pengetahuan. Contohnya adalah berpikir, mengingat, memutuskan sesuatu, dan memecahkan masalah. Semua contoh itu adalah fungsi yang membentuk bahasa, imajinasi, persepsi, dan perencanaan (Wagner 2009). Fungsi-fungsi tersebut diproses dalam otak yang memiliki jutaan sel saraf. Nah, sel saraf inilah yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan proses mental.
Seperti sel-sel tubuh lainnya, sel saraf memerlukan energi yang cukup untuk bekerja dengan baik dan benar. Energi ini hanya datang dari glukosa. Oleh karena itu, untuk menjalankan fungsi mental, otak manusia memerlukan glukosa yang cukup. Dengan asumsi ini, puasa sebagai kondisi di mana makanan tidak masuk ke dalam tubuh dalam waktu tertentu, diduga dapat menurunkan kualitas proses mental yang ada di dalam otak.
Akan tetapi, fakta membuktikan bahwa kurangnya glukosa pada saat puasa tidak menghambat pemenuhan kebutuhan glukosa di dalam otak. Bagaimana pun juga, tubuh kita adalah sistem pengatur energi yang canggih. Tubuh selalu bisa menjaga keseimbangan (homeostatis). Jadi, ketika tubuh mendeteksi adanya kekurangan glukosa maka glukosa tambahan, akan dibentuk dari sumber lainnya yang ada di dalam tubuh, seperti glikogen dan protein. Pembentukan glukosa yang baru ini (glukoneogenesis) membuat ketersediaan glukosa di dalam otak menjadi seimbang (Rochmyaningsih 2009). Dengan cara seperti itulah, otak manusia dapat bekerja normal pada saat puasa harian, seperti puasa Senin-Kamis dan juga puasa Ramadhan.
Di Indonesia, kebanyakan Muslim menyalahkan puasa sebagai hal yang membuat mereka kurang berkonsentrasi saat bekerja. Padahal, sebenarnya yang mengganggu mereka adalah sensasi lapar. Sensasi ini memang dapat mengganggu konsentrasi karena di proses dalam otak juga. Akan tetapi, kita dapat mengabaikan sensasi ini jika kita benar-benar berkonsentrasi penuh pada pekerjaan kita. Faktanya, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa puasa harian menyebabkan berkurangnya kinerja otak dalam berpikir. Puasa Senin-Kamis aman untuk diamalkan. Tapi, apa yang menyebabkan puasa Senin-Kamis layak disebut gaya hidup yang sehat?
Dalam pandangan saya, apa yang menyebabkan puasa Senin-Kamis istimewa adalah waktu pelaksanaannya. Berbeda dengan puasa Ramadhan yang wajib ditunaikan selama satu bulan penuh oleh seorang Muslim, puasa Senin-Kamis merupakan puasa sunah yang dianjurkan untuk dilakukan setiap hari Senin dan hari Kamis. Perlu kita perhatikan bahwa terdapat selang dua hari dari Senin menuju Kamis, dan terdapat selang tiga hari dari Kamis menuju Senin. Bersama dengan puasa sunah Nabi Daud yang dilakukan berselang-seling satu hari, puasa Senin Kamis bisa diartikan sebagai bentuk puasa berselang-seling (alternate days fasting). Puasa berselang-seling merupakan salah satu bentuk pembatasan kalori (caloric restriction). Pembatasan kalori adalah usaha membatasi jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuh.
Seperti yang kita ketahui, dewasa ini makanan sampah (junkfood) berlimpah. Banyak sekali kita temukan orang yang jarang berpuasa dan mengonsumsi makanan secara berlebihan, entah itu sering mengonsumsi mi instan, makanan manis, makanan cepat saji (fast food), makanan berlemak, dan lain sebagainya. Fenomena ini merupakan hal yang buruk bagi kesehatan orang bersangkutan. Tingginya konsumsi makanan yang tidak sehat, bisa mengakibatkan tingginya aktivitas sistem tubuh. Kita membuat sistem tubuh kita lelah dengan makanan-makanan yang kita masukkan secara berlebihan. Tidaklah heran, jika pola makan yang tidak sehat ini bisa mengakibatkan penyakit, seperti obesitas dan juga diabetes (Halberg 2005). Perlu kita ketahui di sini bahwa diabetes adalah penyakit yang bisa mengundang penyakit lainnya, seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, dan juga karsinoma (Bartness et al 2002).
Nah, dengan puasa berselang-seling, sebagai bentuk pembatasan kalori, kita bisa mencegah penyakit-penyakit ini. Dengan asupan makanan yang berkurang, kita bisa membuat sistem pencernaan tubuh kita beristirahat, berhemat dalam menggunakan makanan yang masuk, dan mendapatkan fungsi metabolisme tubuh yang optimal (Haldberg et al 2005). Puasa berselang-seling juga dapat meningkatkan sensitivitas hormon insulin sehingga menguntungkan bagi pengaturan glukosa dalam tubuh (Anson 2003). Oleh karena itu, jelaslah bahwa puasa berselang-seling ini merupakan gaya hidup yang sehat di tengah budaya konsumerisme yang sudah menjamur di tengah umat Muslim.
Peran puasa Senin-Kamis sebagai gaya hidup yang sehat, menambah khazanah keselarasan rasionalisme dengan Islam. Tidak hanya mempunyai ayat-ayat Alquran yang mengandung banyak esensi ilmu pengetahuan, tetapi Islam juga mengajarkan Assunah yang selaras dengan perkembangan sains saat ini. Tidak hanya mengantarkan Anda untuk dekat pada-Nya, ibadah puasa Senin-Kamis yang kontinu juga menjaga Anda dengan gaya hidup yang sehat.
Langganan:
Postingan (Atom)